Demonstran Mengamukkan di Kenya Atas Rencana Fasilitas Karantina Ebola
teknologi

Demonstran Mengamukkan di Kenya Atas Rencana Fasilitas Karantina Ebola

CNN Indonesia1 jam lalu👁 1 views🤖 AI Rewritten

Pada Selasa, 2 Juni 2026, ribuan warga Kenya berunjuk rasa memprotes rencana pembangunan fasilitas karantina Ebola di pangkalan militer. Para demonstran berkerumun di Kota Nanyuki, beberapa hari setelah Pengadilan Tinggi Kenya memerintahkan penangguhan rencana pembangunan tersebut.

Fasilitas ini diprotes karena warga tidak menerima Kenya ingin menjadi tempat penampungan orang-orang yang terpapar virus Ebola. Padahal, Kenya belum mendeteksi kasus tersebut, meskipun negara-negara tetangganya seperti Republik Demokratik Kongo dan Uganda sudah mengalaminya.

Foto-foto yang diperoleh Reuters dan Associated Press menunjukkan kerumunan orang memadati jalanan menuju pangkalan udara Laikipia, yang ingin dijadikan tempat karantina. Para warga meniup peluit dan beberapa lainnya menaiki truk pikap. Asap terlihat mengepul dari ban yang dibakar para pedemo.

Aparat kepolisian dan militer Kenya diperbanyak untuk mengamankan situasi. Pejabat AS sebelumnya mengatakan fasilitas karantina berkapasitas 50 tempat tidur rencananya dibangun di pangkalan Laikipia. Fasilitas ini dibuat untuk merawat warga AS yang terpapar virus namun belum bergejala.

Kendati demikian, warga Kenya melayangkan gugatan ke pengadilan untuk menentang pembangunan fasilitas. Alasannya, pembangunan tersebut dapat membahayakan kesehatan masyarakat, mengingat sistem kesehatan Kenya yang belum mumpuni. Selain itu, perjanjian mengenai pembangunan ini juga dinilai kurang transparan.

Pengadilan Kenya pada Jumat (29/5) menerima gugatan tersebut dan memerintahkan rencana pembangunan dihentikan sementara. Rencananya, pemerintah AS akan mengalokasikan dana sebesar US$13,5 juta untuk upaya kesiapsagaan Ebola di Kenya.

Menteri Kesehatan Kenya Aden Duale pada Sabtu (30/5) menjelaskan bahwa kesepakatan ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat sistem tanggap darurat. Ia juga meyakinkan bahwa pusat karantina itu ditujukan untuk "semua orang", bukan cuma warga AS.

Patrick Wahome, salah satu penyelenggara demonstrasi, mengatakan kepada Reuters bahwa para pengunjuk rasa menginginkan fasilitas tersebut ditutup selamanya pada Selasa, 9 Juni.