Kementan Buka Peluang Bisnis Dapur Susu untuk MBG Modal di Bawah Rp5 M
ekonomi

Kementan Buka Peluang Bisnis Dapur Susu untuk MBG Modal di Bawah Rp5 M

CNN Indonesia1 jam lalu👁 1 views

Ekonomi

Bisnis

Kementan Buka Peluang Bisnis Dapur Susu untuk MBG Modal di Bawah Rp5 M

CNN Indonesia

Selasa, 02 Jun 2026 13:55 WIB

Bagikan:

url telah tercopy

Model usaha ini disiapkan untuk memperluas sentra peternakan sapi perah di luar Pulau Jawa sekaligus menjamin pasar bagi peternak lokal. (FOTO:CNN Indonesia/ Adi Ibrahim).

Jakarta, CNN Indonesia

--

Kementerian Pertanian (

Kementan

) membuka peluang pengembangan usaha pengolahan

susu

skala kecil atau Dapur Susu Indonesia (DASI) dengan kebutuhan modal di bawah Rp5 miliar untuk memasok kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (

MBG

).

Model usaha ini disiapkan untuk memperluas sentra peternakan sapi perah di luar Pulau Jawa sekaligus menjamin pasar bagi peternak lokal.

"Kami sudah buat prototipe-nya, dengan modal mungkin di bawah Rp5 miliar, itu sudah bisa membuat satu unit dapur susu yang kemudian bisa menyuplai sekitar 5 sampai 10 SPPG di sekitarnya," kata Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan Makmun dalam konferensi pers di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (2/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Makmun, DASI dirancang sebagai unit pengolahan susu skala kecil yang dapat dikembangkan koperasi maupun pelaku usaha lokal. Konsep tersebut diharapkan mampu mendekatkan produksi susu dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang tersebar di berbagai daerah.

Lihat Juga :

Gaji ke-13 PNS hingga Pensiunan Cair mulai Hari Ini

Ia mengatakan kebutuhan susu dalam program MBG menjadi peluang baru bagi pengembangan peternakan sapi perah nasional. Sebab, susu termasuk salah satu menu yang wajib diberikan kepada penerima manfaat dengan frekuensi minimal dua kali dalam sepekan.

"Apa jaminannya? Jaminannya di-offtake oleh Badan Gizi (Nasional), karena kan menjadi menu yang wajib, ya. Kalau kita lihat di pedoman (Surat Edaran MBG) itu minimum dua kali dalam sepekan mengonsumsi atau meminum susu," ujarnya.

[Gambas:Youtube]

Makmun menjelaskan populasi sapi perah Indonesia saat ini tercatat sekitar 540.657 ekor. Lebih dari 90 persen di antaranya dipelihara oleh peternak rakyat, sementara industri besar hanya memiliki porsi yang relatif kecil.

Menurut dia, selama ini pengembangan sapi perah terkendala lemahnya sektor hilir atau industri pengolahan susu di sejumlah daerah. Akibatnya, peternak sering menghadapi ketidakpastian pasar ketika produksi meningkat.

"Kendalanya yang selama ini ada adalah industrinya. Teman-teman industri bilang belum ada sapinya. Teman-teman peternak sapi perah bilang nanti kalau kita berproduksi bagaimana pemasarannya," kata Makmun.

Ia mencontohkan pengalaman di Sulawesi Selatan yang sempat memiliki populasi sapi perah cukup besar. Namun usaha tersebut perlahan menyusut karena sektor pengolahan susunya tidak berkembang sehingga penyerapan produksi peternak menjadi terbatas.

Lihat Juga :

Harga Telur Turun, Peternak Menjerit saat Sentuh Rp20 Ribuan per Kg

Karena itu, pemerintah mendorong agar pengembangan sapi perah tidak lagi hanya terpusat di Pulau Jawa. Dengan dukungan MBG sebagai pasar yang relatif pasti, peternakan sapi perah diharapkan bisa berkembang di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara hingga kawasan Indonesia Timur.

Makmun mengatakan kebutuhan susu untuk MBG tidak hanya bisa dipenuhi produk susu UHT. Susu pasteurisasi maupun susu sterilisasi juga dapat digunakan, sehingga membuka peluang bagi usaha pengolahan susu skala kecil di daerah.

"Kalau pasteurisasi dan sterilisasi saya kira dengan modalnya koperasi ini bisa dibuat, makanya tadi harus ada kalau kami istilahnya DASI, Dapur Susu Indonesia," ujarnya.

Dalam konsep yang disiapkan Kementan, setiap wilayah dapat memiliki peternakan sapi perah dengan kapasitas sekitar 100 hingga 200 ekor yang terhubung langsung dengan unit pengolahan susu. Produk susu kemudian disalurkan ke dapur MBG atau SPPG di sekitarnya.

Lihat Juga :

Segini Besaran Gaji ke-13 PNS yang Cair Mulai Hari Ini

"

Nah

, itu langsung disuplai ke SPPG, ini kan menjadi pasar yang baik," kata Makmun.

Menurut dia, kepastian pasar menjadi faktor penting untuk mendorong peternak meningkatkan populasi sapi perah. Dengan adanya program pemerintah yang menjamin penyerapan hasil produksi, peternak diyakini akan lebih percaya diri untuk berinvestasi dan memperluas usaha.

"Peternak ini kan semangat untuk beternak, tapi kalau nyerapnya kurang kan (menjadi) problem. Jadi itu dengan adanya sekarang semua ada di dalam program pemerintah, pengembangannya, kemudian offtake-nya ada," ujarnya.

Lihat Juga :

Rupiah Nyaris Ambrol ke Rp18 Ribu, Ini Skenario Terburuk versi Analis

Makmun menambahkan Kementan saat ini mulai mengembangkan model terintegrasi tersebut di Sulawesi Selatan, mulai dari peternakan hingga pengolahan susu.

Keberhasilan model itu diharapkan dapat menjadi pemicu lahirnya sentra-sentra sapi perah baru di berbagai daerah untuk mendukung kebutuhan susu dalam program MBG.

"Kalau sudah ada trigger biasanya para peternak kita akan tumbuh dengan sendirinya. K