PM Anwar Ibrahim Terancam, Anak Didiknya Membelot Bentuk Partai Baru
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, sedang menghadapi tekanan politik yang makin besar setelah anak didiknya yang dicap calon penerusnya membelot dan membuka partai baru. Perpecahan ini terjadi ketika Malaysia kemungkinan akan menghadapi pemilihan umum paling cepat tahun ini.
Rafizi Ramli, mantan menteri ekonomi yang pernah dipandang sebagai calon penerus Anwar, awal bulan ini mengumumkan akan keluar dari Partai Keadilan Rakyat (PKR) milik sang PM dan mengambil alih partai kecil bernama Malaysia United Party atau Bersama. Dikutip Reuters, Bersama mengaku telah menerima lebih dari 18 ribu permohonan keanggotaan, sekitar sepertiganya berasal dari mantan anggota PKR.
Meski para pembelot dari PKR sebagian besar merupakan anggota akar rumput atau pengurus lokal partai, jumlah itu memunculkan keraguan terhadap kemampuan Anwar mempertahankan kekuasaan jika perpecahan dalam koalisi pemerintah terus membesar. Undang-undang Malaysia melarang anggota parlemen berpindah partai saat masih menjabat, yang bisa memaksa Anwar menggelar pemilu lebih awal dari jadwal semestinya sekitar 2028.
Awal bulan ini, Anwar mengatakan ia mempertimbangkan pemilu dini jika perpecahan internal dalam pemerintahannya terus melebar. Dalam unggahannya di media sosial pada Kamis, Anggota parlemen PKR sekaligus pendukung lama Anwar, Hassan Abdul Karim, mengatakan ia telah menyerah mencoba menghentikan anggota partai keluar.
Menurutnya, para pemimpin PKR gagal mendengarkan kekhawatiran para anggota. "Meski masih percaya pada PKR, partai itu kini terluka, tersakiti, dan mengalami cedera kritis," ucap Hassan.