Berpotensi 'Menyemai' Kehidupan ke Venus: Studi Baru Bumi
teknologi

Berpotensi 'Menyemai' Kehidupan ke Venus: Studi Baru Bumi

CNN Indonesia1 jam lalu👁 1 views🤖 AI Rewritten

Ilmuwan menilai ada kemungkinan Bumi mengirim bahan kehidupan ke Venus, lewat mekanisme panspermia. Pansermia adalah gagasan bahwa kehidupan tidak dimulai di planet asal, melainkan dibawa oleh meteoroid dan benda angkasa lainnya dari tempat lain di alam semesta. Menurut laman New Scientist, ilmuwan menilai ada kemungkinan Bumi mengirim bahan kehidupan ke Venus.

Berdasarkan gagasan tersebut, sebuah penelitian terbaru menunjukkan skenario tersebut masuk akal secara perhitungan. Penelitian ini menggunakan kerangka Venus Life Equation (VLE) yang dikembangkan oleh Noam Izenberg dan rekan-rekannya pada 2021. VLE bekerja mirip konsep Drake Equation, yakni peluang keberadaan kehidupan dipecah menjadi beberapa faktor yang kemudian dikalikan.

Dalam kerangka ini, L adalah kemungkinan adanya kehidupan yang masih ada (dari 0 hingga 1). O mewakili peluang "asal-usul" kehidupan yang bisa dimulai dan kemudian menetap di Venus. Adapun R menggambarkan "ketahanan" material/kehidupan menghadapi perubahan, dan C menunjukkan kesinambungan kondisi yang mendukung hingga masa kini.

Material dari Bumi perlu terdispersi di atmosfer Venus untuk dapat bertahan. Tim peneliti menelaah perjalanan material melalui ruang angkasa. Setelah hantaman besar, material terlempar dengan energi tinggi dan mengalami berbagai tantangan, seperti panas akibat dampak, radiasi, vakum, serta suhu ekstrem.

Bukti dari pemodelan komputer dan studi meteor yang ditemukan di Bumi menunjukkan sebagian materi organik dapat bertahan pada proses lontaran dan perpindahan antarplanet. Sampai di Venus, tantangannya berlanjut. Supaya dapat bertahan, material harus terdispersi di atmosfer tebal Venus.

Hasil studi oleh E. Guinan et al. ini sudah dipublikasikan di Journal of Geophysical Research: Planets pada Maret 2026. Penelitian ini dipresentasikan dalam Lunar and Planetary Science Conference (LPSC) 2026 dan melibatkan tim dari Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory (JHUAPL) serta Sandia National Laboratories.