BUMN Farmasi Kimia Farma Buka Suara soal Pisah Holding
ekonomi

BUMN Farmasi Kimia Farma Buka Suara soal Pisah Holding

CNN Indonesia1 jam lalu👁 2 views

Ekonomi

Bisnis

BUMN Farmasi Kimia Farma Buka Suara soal Pisah Holding

CNN Indonesia

Jumat, 05 Jun 2026 08:59 WIB

Bagikan:

url telah tercopy

mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu arahan lanjutan dari Danantara dan Bio Farma, dilansir dari Detikfinance, Jumat (5/6). (FOTO:CNNIndonesia/Safir Makki).

Jakarta, CNN Indonesia

--

Bos PT

Kimia Farma

Tbk (KAEF) buka suara terkait kabar

Danantara

berencana memisahkan perusahaannya dari

holding

farmasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Bio Farma (Persero).

Direktur Utama Kimia Farma Djagad Prakasa Dwialam mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu arahan lanjutan dari Danantara dan Bio Farma, dilansir dari

Detikfinance

, Jumat (5/6).

"Kami menunggu dari Biofarma, karena kami sebagai objek di sini. Bukan kami berinisiatif, tapi kami ada sebagai objek, di mana teman-teman dari Bio Farma lah yang akan menentukan," ungkap Djagad dalam acara Public Expose di kantor Bio Farma Group, Rabu (3/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Djagad mengaku belum bisa memastikan kapan pemisahan tersebut dilakukan. Itu karena, rencana tersebut menjadi inisiatif dari Danantara dan Bio Farma sebagai

holding

BUMN farmasi.

Lihat Juga :

BGN Lapor ke Prabowo Risiko Tak Capai Target Penerima MBG Tahun Ini

Meski begitu, Kimia Farma mengikuti arahan Danantara. Djagad mengatakan, Danantara berencana memangkas jumlah BUMN dari sekitar 1.000 menjadi sekitar 250 perusahaan.

"Pelaksanaan deholdingisasi, kita menunggu saja, sesuai dengan arah Bio Farma. Tapi kalau streamlining, pengurangan atau mengurangi jumlah anak usaha, itu kita sedang berproses," jelasnya.

[Gambas:Youtube]

Djagad menambahkan, Kimia Farma telah memperbaiki portofolio produk sepanjang tahun 2025. Setidaknya, perseroan telah memangkas sebanyak 181 produk menjadi 494 produk sepanjang tahun lalu.

"Kimia Farma melakukan rasionalisasi atau penghapusan produk yang tidak kita teruskan produksinya sebesar 181 produk, sehingga jumlah produk eksisting pada tahun 2025 turun dari 675 menjadi 494," pungkasnya.

(ins)

Add

as a preferred

source on Google

Bagikan:

url telah tercopy