Dokter Peringatkan Kolesterol Tinggi pada Anak Sering Tak Bergejala
Kolesterol tinggi pada anak sering tidak menimbulkan gejala sehingga terlambat terdeteksi. Pola makan tinggi lemak dan riwayat keluarga menjadi faktor utama yang perlu diwaspadai orangtua.
Dokter spesialis anak dr. Prajnya Paramitha Narendraswari, Sp.A mengingatkan orangtua di Jakarta mengenai bahaya kolesterol tinggi pada anak yang sering tidak disadari. Peringatan ini disampaikan dalam talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan pada Rabu (27/5/2026). Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena pola makan tinggi lemak serta minimnya aktivitas fisik dapat memicu gangguan metabolisme sejak dini. Banyak orangtua menganggap perubahan pada anak sebagai hal biasa padahal bisa menjadi tanda awal masalah kesehatan serius.
Menurut Dr. Prajnya, kolesterol tinggi pada anak sering bersifat asimptomatik atau tidak menimbulkan gejala sama sekali. Akibatnya banyak kasus baru diketahui setelah kondisi memburuk. Ia menyebutkan beberapa tanda yang perlu diperhatikan seperti anak mudah berkeringat, nafsu makan besar, serta perubahan berat badan yang drastis. Penumpukan lemak di sekitar mata juga bisa muncul pada kondisi tertentu sebagai indikasi adanya masalah metabolisme.
Pola makan anak yang tinggi lemak jenuh dari gorengan, santan, dan konsumsi jeroan berlebihan dinilai memperburuk kondisi tersebut. Dr. Prajnya menekankan pentingnya orangtua memahami hubungan antara kebiasaan makan dengan risiko kolesterol tinggi sejak usia muda. Tanpa perubahan pola hidup, gangguan ini berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan jangka panjang.
Anak yang memiliki riwayat keluarga dengan kolesterol tinggi atau penyakit jantung koroner disarankan menjalani skrining lebih awal. Beberapa panduan luar negeri bahkan merekomendasikan pemeriksaan kolesterol sejak usia 2–3 tahun bagi anak berisiko tinggi. Langkah ini penting untuk mendeteksi masalah sedini mungkin sebelum gejala muncul.