Hetifah Desak Pemerintah Usut Dugaan Riset Palsu WNI di Konferensi Denmark
politik

Hetifah Desak Pemerintah Usut Dugaan Riset Palsu WNI di Konferensi Denmark

Tribun News4 jam lalu👁 1 views🤖 AI Rewritten

Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian meminta pemerintah mengusut secara transparan dugaan pemalsuan penelitian WNI di konferensi ISPPD Denmark. Ia menilai kasus ini menyangkut integritas akademik dan nama baik Indonesia di forum internasional.

Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian meminta pemerintah segera mengusut dugaan pemalsuan riset yang dilakukan sejumlah WNI dalam konferensi International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases atau ISPPD 2026 di Denmark. Permintaan tersebut disampaikan Hetifah pada Kamis 28 Mei 2026 di Jakarta. Ia menilai kasus ini tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut integritas akademik sekaligus reputasi Indonesia di forum ilmiah internasional. Hetifah juga menekankan pentingnya investigasi yang objektif dan transparan agar tidak muncul spekulasi liar di masyarakat.

Menurut Hetifah, penjelasan Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Brian Yuliarto yang menyatakan WNI tersebut bukan dosen atau peneliti aktif belum cukup untuk menghentikan penelusuran lebih lanjut. Ia menegaskan bahwa investigasi tetap diperlukan agar informasi yang berkembang di ruang publik tidak menimbulkan spekulasi yang merugikan. Politisi Partai Golkar itu juga meminta klarifikasi langsung dari para WNI yang dituduhkan agar duduk perkara dapat dipahami secara utuh.

Hetifah menyoroti dua WNI yang dimaksud yaitu Rifaldy Fajar dan Prih yang diduga menggunakan data riset fiktif serta identitas akademik bermasalah dalam forum tersebut. Ia menilai langkah klarifikasi penting dilakukan agar tidak ada pihak yang dirugikan tanpa dasar yang jelas. Menurutnya investigasi harus mencakup kemungkinan pelanggaran etik akademik kesalahan administratif atau bahkan kesalahpahaman dalam proses konferensi.

Hetifah berharap kasus ini menjadi momentum evaluasi tata kelola riset dan publikasi ilmiah nasional di tengah meningkatnya perhatian global terhadap etika akademik dan penggunaan teknologi kecerdasan buatan dalam penelitian. Ia menekankan bahwa dunia akademik harus menjaga standar integritas tinggi karena reputasi riset nasional merupakan bagian penting dari daya saing bangsa di tingkat global. Hetifah juga mendorong agar proses investigasi dilakukan secara berbasis fakta tanpa ada pihak yang terburu-buru menarik kesimpulan.