Mengapa Rasa Kantuk Sering Muncul Bersama Dorongan Mengunyah?
teknologi

Mengapa Rasa Kantuk Sering Muncul Bersama Dorongan Mengunyah?

CNN Indonesia2 jam lalu👁 1 views🤖 AI Rewritten

Dorongan mengunyah saat mengantuk muncul sebagai mekanisme bawah sadar tubuh untuk melawan kelelahan dan menjaga fokus. Berbagai studi ilmiah membuktikan bahwa mengunyah dapat merangsang sistem saraf dan meningkatkan aliran darah ke otak.

Rasa kantuk yang disertai dorongan ingin mengunyah dialami banyak orang di berbagai tempat, termasuk Jakarta, pada Kamis 28 Mei 2026. Fenomena ini terjadi karena akumulasi zat adenosin sebagai utang tidur yang berpadu dengan jam biologis tubuh, sehingga otak mencari cara untuk tetap terjaga. Selain itu, kebiasaan sehari-hari seperti kualitas tidur buruk, makan berlebih, kurang minum, dan kelelahan juga menjadi pemicu munculnya rasa kantuk tersebut.

Dorongan untuk mengunyah saat mengantuk sebenarnya merupakan cara bawah sadar tubuh mengatasi kelelahan. Proses mengunyah tidak hanya membantu pencernaan, tetapi juga mengurangi stres dan menjaga fokus yang biasanya menurun ketika mengantuk. Stimulasi otot wajah saat mengunyah meningkatkan aliran darah ke otak serta memicu pelepasan neurotransmitter yang membuat seseorang lebih waspada.

Sebuah ulasan dalam jurnal BioMed Research International menyebutkan bahwa otak membutuhkan masukan sensorik untuk mengatur sistem saraf tetap aktif saat tubuh lelah. Sementara itu, studi yang dimuat di Physiology & Behaviour menemukan bahwa mengunyah permen karet mampu merangsang sistem saraf otonom dan meningkatkan kewaspadaan. Kedua penelitian ini memperkuat alasan mengapa banyak orang memilih mengunyah daripada minum kopi untuk mengusir kantuk.

Meski demikian, pilihan yang dikunyah tetap perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan dampak negatif. Makanan atau camilan sehat sebaiknya dipilih, sementara camilan tinggi lemak dan kalori sebaiknya dihindari karena berisiko meningkatkan berat badan. Dengan cara ini, dorongan mengunyah saat mengantuk bisa dimanfaatkan secara positif tanpa menimbulkan masalah kesehatan lain.