Mengenal Fictosexuality, Ketertarikan Emosional pada Karakter Fiksi
hiburan

Mengenal Fictosexuality, Ketertarikan Emosional pada Karakter Fiksi

CNN Indonesia9 jam lalu👁 1 views🤖 AI Rewritten

Istilah fictosexuality merujuk pada perasaan cinta dan hasrat yang kuat terhadap karakter fiksi. Fenomena ini dianggap normal dan bisa menjadi ruang aman untuk memahami seksualitas seseorang.

Fenomena fictosexuality atau fictophilia sedang ramai dibicarakan di Jakarta pada Kamis 28 Mei 2026. Banyak orang merasa lebih tertarik pada karakter fiksi dibandingkan manusia di dunia nyata sehingga muncul pertanyaan mengapa hal itu bisa terjadi. Istilah ini merujuk pada perasaan cinta ketertarikan atau hasrat yang kuat dan berlangsung lama terhadap tokoh dalam anime serial atau gim. Kondisi tersebut muncul karena karakter fiksi sering dirancang dengan sifat ideal yang membuat penonton atau pembaca terpikat.

Menurut psikoterapis dan seksolog Chloe Scotney ketertarikan terhadap karakter fiksi sebenarnya sangat normal. Karakter-karakter tersebut biasanya digambarkan lucu pintar perhatian pemberani atau penuh misteri sehingga menciptakan daya tarik tersendiri. Bahkan karakter jahat pun sering dibuat menarik karena sisi gelapnya diromantisasi dalam cerita. Scotney menjelaskan bahwa tokoh fiksi menjadi ruang aman bagi banyak orang untuk memahami seksualitas dan ketertarikan mereka sendiri.

Melalui film buku serial atau gim seseorang bisa mengenali tipe kepribadian yang disukai serta dinamika hubungan yang menarik perhatian. Tak heran jika banyak orang memiliki karakter fiksi favorit yang membekas sejak masa remaja dan menjadi bagian dari proses mengenal diri. Fenomena ini dianggap lebih umum daripada yang dibayangkan mulai dari crush ringan hingga keterikatan emosional mendalam.

Psikologi sebenarnya sudah lama membahas hal serupa sejak 1956. Psikolog Donald Horton dan Richard Wohl memperkenalkan istilah parasocial relationship yakni hubungan emosional satu arah terhadap figur di layar. Dalam hubungan seperti ini seseorang bisa merasa dekat secara emosional meski tidak ada interaksi timbal balik. Bagi sebagian orang hubungan dengan karakter fiksi bahkan terasa lebih nyata dibandingkan hubungan dengan manusia sesungguhnya.