Rupiah Melemah Rp18 Ribu, Bagaimana Dampaknya bagi Industri Impor-Ekspor RI?
ekonomi

Rupiah Melemah Rp18 Ribu, Bagaimana Dampaknya bagi Industri Impor-Ekspor RI?

CNN Indonesia3 jam lalu👁 2 views🤖 AI Rewritten

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mencatat rekor pada Kamis (4/6), dengan harga Rp18.049 per dolar AS. Kondisi ini berdampak pada industri impor-ekspor di Indonesia, yang erat kaitannya dengan transaksi mata uang asing.

Menurut Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata, pelemahan rupiah tidak memberikan dampak yang sama bagi seluruh pelaku usaha. Secara teori, eksportir bisa mendapatkan manfaat dari pelemahan rupiah karena pendapatan dalam dolar AS ketika dikonversi ke rupiah menjadi lebih besar. Namun, dalam praktiknya, banyak eksportir Indonesia tetap memakai bahan baku impor, energi impor, mesin impor, suku cadang impor, dan jasa logistik internasional yang juga dibayar dalam dolar AS.

"Jadi, pelemahan rupiah hanya benar-benar menguntungkan eksportir yang bahan bakunya dominan lokal, biaya rupiahnya besar, dan permintaan globalnya masih kuat," katanya kepada CNNIndonesia.com. Sementara itu, importir dan industri yang menjual ke pasar domestik paling cepat tertekan karena biaya barang impor naik lebih dulu, sedangkan kemampuan menaikkan harga jual masih dibatasi daya beli masyarakat.

Oleh karena itu, menurut Josua, dampak awal pelemahan rupiah cenderung lebih negatif terhadap margin usaha, arus kas, dan rencana produksi dibandingkan manfaat yang bisa diperoleh dari ekspor. "Tekanan nilai tukar, energi, logistik, dan rantai pasok membuat prospek perdagangan lebih tidak stabil dan surplus perdagangan lebih mudah menyempit," ujar Josua.

Sementara itu, Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Myrdal Gunarto menilai sektor ekspor masih mampu bertahan di tengah gejolak nilai tukar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai US$25,30 miliar, naik 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$20,74 miliar.

"Saya rasa ini menjadi tanda bahwa industri ekspor masih kuat dan bisa bertahan di tengah gejolak nilai tukar," katanya.