Dokter Peringatkan Risiko Jeroan bagi Anak saat Idul Adha
kesehatan

Dokter Peringatkan Risiko Jeroan bagi Anak saat Idul Adha

Tribun News11 jam lalu👁 1 views🤖 AI Rewritten

Dokter spesialis anak dr. Prajnya Paramitha Narendraswari, Sp.A mengingatkan bahwa jeroan seperti otak dan sumsum tulang mengandung kolesterol serta purin tinggi yang berisiko bagi anak. Konsumsi perlu dibatasi terutama pada anak usia lebih besar meski anak di bawah dua tahun masih membutuhkan lemak untuk perkembangan otak.

Dokter spesialis anak dr. Prajnya Paramitha Narendraswari, Sp.A memberikan peringatan penting mengenai konsumsi jeroan oleh anak saat perayaan Idul Adha. Peringatan ini disampaikan dalam talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan pada Kamis (27/5/2026). Ia menjelaskan bahwa gulai otak, sate usus, dan sumsum tulang yang menjadi favorit banyak anak mengandung kolesterol serta purin tinggi sehingga berbahaya jika dikonsumsi terlalu sering. Peringatan tersebut muncul karena masyarakat sering mengabaikan dampak jangka panjang dari makanan tersebut terhadap kesehatan anak.

Menurut dr. Prajnya, jeroan tidak hanya meningkatkan kadar kolesterol tetapi juga dapat menaikkan asam urat dan membebani kerja ginjal anak. Ia menekankan bahwa purin dalam jeroan akan diolah tubuh dan dibuang melalui ginjal sehingga konsumsi berlebih berisiko menimbulkan masalah kesehatan. Karena alasan itu, ia menyarankan agar jeroan tidak dikonsumsi setiap hari terutama oleh anak yang usianya lebih besar. Pembatasan ini penting untuk mencegah dampak negatif yang mungkin muncul di kemudian hari.

Dr. Prajnya secara khusus menyebut otak dan sumsum tulang sebagai bagian dengan kandungan kolesterol paling tinggi dibanding jeroan lainnya. Menu seperti bone marrow yang sedang populer juga tidak boleh diberikan terlalu sering kepada anak. Ia menyarankan agar makanan tersebut hanya dikonsumsi sesekali saja agar kesehatan anak tetap terjaga. Cara memasak daging kurban pun turut memengaruhi kadar lemak yang masuk ke dalam tubuh anak.

Menariknya, dr. Prajnya menjelaskan bahwa anak usia di bawah dua tahun sebenarnya belum memerlukan pembatasan lemak yang ketat. Pada usia tersebut otak anak sedang berkembang pesat sehingga membutuhkan lemak sebagai nutrisi penting. Namun, orang tua tetap disarankan memperhatikan porsi dan frekuensi pemberian agar tidak berlebihan.