Drone Hizbullah Jadi Rudal Presisi, Israel Hadapi Ancaman Strategis
politik

Drone Hizbullah Jadi Rudal Presisi, Israel Hadapi Ancaman Strategis

Tribun News27 Mei 2026👁 1 views🤖 AI Rewritten

Drone Hizbullah telah berevolusi dari ancaman taktis menjadi strategis bagi Israel. Serangan beruntun memaksa perubahan taktik operasi militer Israel di Lebanon Selatan.

Koresponden militer media Israel Maariv, Avi Ashkenazi, menyatakan bahwa drone peledak milik Hizbullah kini secara efektif telah berkembang menjadi semacam sistem rudal presisi. Pernyataan tersebut muncul setelah laporan mengenai gelombang serangan drone yang berlangsung selama berjam-jam di wilayah utara Palestina yang diduduki pada Rabu (27/5/2026). Serangan ini terjadi karena Hizbullah meningkatkan kemampuan pengawasan termal dan memperluas penggunaan drone bunuh diri dalam operasinya. Media Israel melaporkan puluhan serangan dalam satu malam yang menyasar permukiman perbatasan hingga jauh ke dalam wilayah pendudukan.

Sejumlah drone First Person View (FPV) meledak di permukiman Misgav Am, sementara sebuah bangunan di Shomera mengalami hantaman langsung. Serangan serupa juga dilaporkan terjadi di Metulla. Media Israel menuding juru bicara militer Israel memberikan laporan yang dinilai tidak akurat terkait korban jiwa, kebakaran, kerusakan rumah, dan proses evakuasi korban luka. Hizbullah disebut menggunakan pengawasan intelijen untuk melacak konsentrasi pasukan Israel sebelum meluncurkan gelombang drone secara bersamaan maupun bertahap ke area target.

Ancaman drone Hizbullah kini telah berkembang menjadi ancaman strategis menurut surat kabar Yedioth Ahronoth. Israel menyebut Hizbullah tidak hanya meningkatkan kemampuan pengawasan termal, tetapi juga memperluas jangkauan operasi drone hingga jauh ke dalam wilayah pendudukan sekaligus memperbesar intensitas serangan dari garis perbatasan Lebanon. Kondisi ini memengaruhi operasi militer Israel di lapangan karena kendaraan teknik ditarik dari beberapa area akibat risiko serangan drone.

Kontraktor yang merobohkan bangunan di Lebanon Selatan kini dibatasi hanya beroperasi pada malam hari sehingga memperlambat laju operasi. Kepemimpinan politik Israel tidak memperkirakan konflik di Lebanon akan berkembang ke arah seperti saat ini. Kondisi gencatan senjata yang membatasi kebebasan operasi militer Israel turut menimbulkan tanda tanya besar di internal Komando Utara Israel terkait masa depan operasi di front Lebanon.