Jepang Resmikan Dewan Intelijen Nasional demi Perkuat Keamanan
Parlemen Jepang mengesahkan undang-undang pembentukan Dewan Intelijen Nasional pada Rabu 27 Mei untuk memperkuat keamanan nasional. Langkah ini dipimpin Perdana Menteri Sanae Takichi guna mengintegrasikan intelijen yang selama ini terfragmentasi.
Parlemen Jepang mengesahkan undang-undang peluncuran Dewan Intelijen Nasional baru pada Rabu 27 Mei untuk memperkuat agenda keamanan nasional di bawah Perdana Menteri Sanae Takichi. Langkah ini diambil guna mencegah mata-mata asing, menghadang terorisme, melindungi teknologi sensitif, serta meningkatkan keselamatan publik secara menyeluruh. Tokyo selama ini mendapat kritik karena kebijakan spionasenya dinilai terlalu longgar dan bahkan disebut sebagai surga bagi mata-mata.
Dewan Intelijen Nasional ini menjadi sangat mendesak setelah perselisihan diplomatik dengan Beijing meletus, terutama sejak Takaichi menyatakan pada November bahwa Tokyo mungkin akan campur tangan jika China berupaya merebut Taiwan. Takaichi menjelaskan kepada parlemen pada Selasa 26 Mei bahwa badan baru ini akan mengintegrasikan kegiatan intelijen yang saat ini tersebar di berbagai lembaga seperti kepolisian, kementerian luar negeri, dan kementerian pertahanan. Ia menekankan pentingnya sistem yang mampu memberikan dukungan kuat bagi pengambilan keputusan para pembuat kebijakan.
Berdasarkan undang-undang yang telah disetujui majelis tinggi dan disahkan majelis pada bulan lalu, pemerintah akan meningkatkan badan intelijen yang ada menjadi komando pusat pengumpulan dan analisis informasi terkait keamanan negara. Dewan tersebut akan dipimpin langsung oleh perdana menteri untuk memastikan koordinasi yang lebih efektif. Langkah ini diharapkan dapat mencegah krisis serius sekaligus menjaga perdamaian dan kemakmuran Jepang.
Meski demikian, para kritikus Takaichi menyuarakan kekhawatiran bahwa aparat intelijen baru ini berpotensi melampaui batas dan melanggar kebebasan serta privasi individu. Mereka menilai penguatan kewenangan semacam itu perlu diawasi ketat agar tidak mengorbankan hak-hak warga. Pembentukan dewan ini tetap menjadi bagian penting dari upaya Jepang merespons dinamika keamanan regional yang semakin kompleks.