Krisis Energi Global Berlanjut, Warga RI Diminta Tak Boros BBM
Krisis energi akibat konflik Timur Tengah mendorong berbagai negara menerapkan penghematan agresif. Indonesia diminta segera mengubah kebiasaan konsumsi BBM agar tidak rentan terhadap gangguan pasokan global.
Krisis energi global yang dipicu konflik berkepanjangan di Timur Tengah belum berakhir hingga Selasa 26 Mei 2026. Pakar energi mengimbau warga Indonesia agar tidak boros menggunakan BBM demi menjaga ketahanan pasokan nasional. Imbauan ini muncul karena gangguan distribusi di jalur Selat Hormuz membuat banyak negara khawatir terhadap ketersediaan energi. Kondisi tersebut terjadi di Jakarta sebagai pusat perhatian kebijakan energi nasional karena Indonesia masih bergantung pada impor meski memiliki produksi domestik.
Banyak negara telah memperketat konsumsi energi untuk mengamankan cadangan minyak mereka. Korea Selatan membatasi kendaraan operasional pemerintah dan mengampanyekan hemat energi secara nasional. Jepang melepas cadangan minyak strategisnya, sementara Pakistan dan Filipina menerapkan pekan kerja empat hari serta work from home. Thailand mengurangi penggunaan pendingin ruangan dan mendorong carpooling, sedangkan Myanmar memberlakukan sistem kendaraan ganjil-genap.
Langkah penghematan juga dilakukan Bangladesh dengan menutup lebih awal aktivitas kampus untuk mengurangi konsumsi listrik. India mendorong penggunaan kendaraan listrik serta energi alternatif sebagai respons terhadap krisis yang sama. Semua kebijakan tersebut menunjukkan bahwa ancaman utama bukan lagi hanya kenaikan harga, melainkan ketidakpastian pasokan energi global. Indonesia pun didorong untuk segera mengikuti pola penghematan serupa.
Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menilai Indonesia belum seketat negara yang 100 persen bergantung impor. Produksi minyak mentah domestik masih mencapai 600 ribu barel per hari sehingga belum terjadi kelangkaan. Namun Fahmy mengingatkan bahwa ketergantungan impor sebesar 1,2 juta barel per hari tetap membuat Indonesia rentan jika konflik geopolitik terus berlanjut. Perang berkepanjangan akan mendorong harga minyak dunia naik mengikuti mekanisme pasar global.