Pelindo Terminal Petikemas Setor Rp1,73 Triliun ke Negara pada 2025
ekonomi

Pelindo Terminal Petikemas Setor Rp1,73 Triliun ke Negara pada 2025

CNN Indonesia26 Mei 2026👁 1 views🤖 AI Rewritten

PT Pelindo Terminal Petikemas menyetor kontribusi Rp1,73 triliun kepada negara sepanjang 2025. Setoran tersebut berasal dari pajak Rp1,45 triliun, PNBP Rp55,59 miliar, dan pembayaran konsesi Rp224,5 miliar.

PT Pelindo Terminal Petikemas menyetorkan kontribusi sebesar Rp1,73 triliun kepada negara sepanjang 2025. Perusahaan melakukan penyetoran tersebut di Jakarta dan dilaporkan pada Selasa 26 Mei 2026. Kontribusi ini mencakup setoran pajak, Penerimaan Negara Bukan Pajak, serta pembayaran konsesi untuk mendukung fiskal nasional. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari kewajiban perusahaan terhadap pemerintah.

Kontribusi Rp1,73 triliun terdiri atas setoran pajak Rp1,45 triliun, PNBP Rp55,59 miliar, dan pembayaran konsesi senilai Rp224,5 miliar. Dari total pajak yang dibayarkan, PPN menyumbang Rp485,45 miliar sebagai kontribusi terbesar. Perusahaan juga menyetor PPh Pasal 25/29 sebesar Rp360,13 miliar dan PPh Pasal 21 senilai Rp267,35 miliar. Semua angka tersebut mencerminkan kepatuhan penuh terhadap regulasi yang berlaku.

Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas Widyaswendra menyatakan bahwa kontribusi tersebut merupakan wujud kepatuhan terhadap regulasi pemerintah. Ia menegaskan setoran Rp1,73 triliun menjadi bukti komitmen perusahaan dalam mendukung perekonomian nasional melalui APBN. Menurut Widyaswendra, efisiensi layanan terminal petikemas diharapkan dapat menekan biaya logistik sekaligus mempercepat distribusi barang. Data BPS menunjukkan sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,98 persen secara tahunan pada Triwulan IV 2025.

Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS Anton Agus Setyawan menilai sektor logistik Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang. Ia menyebut bisnis logistik mulai tumbuh sejak awal 2000-an seiring maraknya perdagangan antarpulau maupun antarnegara. Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan sistem distribusi yang kuat agar rantai pasok berjalan efisien. Anton menambahkan pembangunan infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir telah membantu mendukung pertumbuhan tersebut.