Seluruh Jemaah Haji Indonesia Tiba di Mina, Armuzna Berjalan Lancar
Kementerian Haji dan Umrah memastikan seluruh jemaah haji Indonesia telah tiba di Mina setelah proses pergerakan dari Arafah dan Muzdalifah selesai. Sebanyak 751 petugas disiagakan untuk mendampingi pelaksanaan lontar jumrah dan mabit di Mina.
Kementerian Haji dan Umrah memastikan seluruh jemaah haji Indonesia telah berhasil diberangkatkan dari Arafah menuju Muzdalifah dan akhirnya tiba di Mina pada fase puncak ibadah haji atau Armuzna. Proses pergerakan tersebut berlangsung lancar, tertib, dan terkendali sesuai pernyataan resmi yang disampaikan Kamis (28/5/2026). Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah Maria Assegaff menjelaskan bahwa pergerakan terakhir dari Arafah ke Muzdalifah terjadi pukul 02.40 waktu Arab Saudi, sementara pergerakan dari Muzdalifah ke Mina selesai pukul 07.00 waktu Arab Saudi dengan area Muzdalifah dinyatakan steril.
Setibanya di Mina, seluruh jemaah melanjutkan rangkaian ibadah mabit serta lontar jumrah Aqabah dan hari-hari tasyrik berikutnya. Fokus pelayanan kini diarahkan pada pendampingan jemaah selama berada di Mina agar mereka mendapatkan bantuan secara cepat dan terkoordinasi. Sebanyak 751 petugas haji telah disiagakan di Mina dan ditempatkan di tenda-tenda jemaah serta sejumlah pos layanan sepanjang jalur menuju Jamarat.
Selain itu, Kementerian Haji dan Umrah juga menyiapkan petugas yang berjaga di Masjidil Haram. Para petugas dibagi ke dalam 10 satuan ad-hoc yang masing-masing bertanggung jawab terhadap 11 hingga 13 markas atau kawasan tenda jemaah. Penguatan layanan ini dilakukan agar jemaah mendapatkan pendampingan, pelindungan, dan bantuan secara cepat serta terkoordinasi selama fase Mina berlangsung.
Kementerian Haji dan Umrah mengimbau seluruh jemaah untuk tetap mematuhi jadwal lontar jumrah yang telah ditentukan dan tidak memaksakan diri. Jemaah diminta tidak melaksanakan lontar jumrah pada pukul 10 pagi hingga 2 siang waktu Arab Saudi karena suhu di Mina dapat mencapai 41 derajat celcius. Jemaah diharapkan memanfaatkan jalur dua atau jalur atas yang telah disiapkan sebagai jalur resmi pergerakan menuju Jamarat guna mendukung kelancaran arus dan mengurangi potensi kepadatan.