Serangan Israel di Lebanon Tewaskan 31 Orang sebagai Balasan Hizbullah
Serangan Israel di Lebanon selatan pada Rabu (27/5/2026) menewaskan 31 orang dan melukai 40 lainnya. Total korban tewas di Lebanon mencapai 3.213 jiwa sejak 2 Maret lalu akibat operasi militer yang terus berlanjut.
Serangan udara Israel menghantam wilayah selatan Lebanon pada Rabu (27/5/2026) dan menewaskan 31 orang serta melukai 40 lainnya. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan angka tersebut setelah serangan yang semakin intensif di wilayah selatan dan timur negara itu. Serangan ini terjadi sebagai balasan Israel terhadap operasi ofensif yang dilancarkan Hizbullah, termasuk serangan drone yang dituding dilakukan kelompok tersebut.
Pasukan Israel mengeluarkan puluhan perintah pengungsian paksa bagi penduduk di berbagai kota dan desa di Lebanon selatan. Akibatnya, kepanikan melanda warga yang berusaha melarikan diri dari serangan darat Israel yang semakin mendalam ke wilayah Lebanon. Masyarakat sipil Lebanon juga mulai mengungsi dari pinggiran selatan ibu kota Beirut yang selama ini dikenal sebagai basis kuat Hizbullah karena khawatir akan serangan baru.
Menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon, sejak 2 Maret lalu serangan Israel telah menewaskan total 3.213 orang dan melukai 9.737 lainnya di negara itu. Angka ini terus bertambah seiring eskalasi konflik yang melibatkan Hizbullah dan pasukan Israel. Sementara itu, dampak konflik juga sangat terasa di pihak Israel terutama bagi mereka yang bermukim di wilayah utara dekat perbatasan Lebanon.
Para kepala daerah di komunitas sekitar perbatasan utara Israel mengumumkan penutupan fasilitas sekolah mulai Selasa (26/5/2026) hingga batas waktu yang belum ditentukan. Kegiatan belajar mengajar untuk sementara dialihkan menjadi sistem jarak jauh atau daring. Keputusan ini diambil secara mandiri oleh pemerintah daerah setempat tanpa menunggu instruksi dari Komando Front Dalam Negeri IDF. Serangan Israel yang berlangsung bertepatan dengan perayaan Idul Adha merupakan tindak lanjut dari instruksi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Senin malam lalu (25/5/2026).