Serapan Kata Prancis yang Tabu di RI, 'Dibumikan' Tan Malaka?
Presiden RI Prabowo Subianto menginstruksikan semua tingkatan sekolah di Indonesia untuk mempelajari Bahasa Prancis. Namun, kata "kudeta" dari bahasa Perancis menjadi tabu karena maknanya yang berarti perebutan atau penggulingan kekuasaan.
Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto baru saja kembali dari lawatannya ke Prancis, di mana ia bertemu dengan Presiden Emmanuel Macron pada Kamis pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo mengajukan proposal untuk memasukkan mata pelajaran Bahasa Prancis ke sekolah-sekolah Indonesia. Menurutnya, bahasa ini akan sangat berguna bagi generasi masa depan dalam menghadapi ketidakpastian global.
" Sekarang, saya sudah instruksikan bahwa semua tingkatan sekolah-sekolah Indonesia harus belajar bahasa Prancis," kata Prabowo. Bahasa Prancis telah mempengaruhi Bahasa Indonesia sejak lama dan beberapa istilah sehari-hari berasal dari negeri Napoleon Bonaparte itu, seperti "kado", "sado" dan "kudeta". Namun, istilah kudeta menjadi tabu bagi politik di negara-negara termasuk Indonesia karena maknanya yang berarti perebutan atau penggulingan kekuasaan.
Secara historis, kata kudeta berasal dari bahasa Perancis dan terdiri dari dua kata: coup yang berarti "pukulan", "serangan", atau "gebrakan" dan Γtat yang berarti "negara". Istilah ini mulai populer setelah aksi perebutan kekuasaan politik yang dilakukan oleh Napoleon Bonaparte pada tahun 1799. Di Indonesia, kata kudeta pertama kali digunakan secara politik pada tanggal 3 Juli 1946 dalam peristiwa "Kudeta Persatuan Indonesia" atau Peristiwa 3 Juli 1946.