IHSG Melemah Hampir 5 Persen, Apa Sebabnya?
ekonomi

IHSG Melemah Hampir 5 Persen, Apa Sebabnya?

CNN Indonesia1 jam lalu👁 2 views🤖 AI Rewritten

Pada hari Rabu, 3 Juni 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi hampir 5 persen. Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova menyebutkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS adalah salah satu penyebabnya. Nilai tukar rupiah telah menembus Rp17.900 per dolar AS.

Selain itu, penguatan emiten konglomerasi juga menjadi faktor penunda IHSG. "Di sisi lain, pergerakan IHSG dibebani oleh emiten-emiten konglomerasi yang selama dua hari belakangan ini bergerak menguat signifikan, bahkan mengalami auto reject atas," kata Ivan.

Dari sisi teknikal, Ivan menilai bahwa pergerakan IHSG masih berada di fase downtrendnya. "Dari sisi teknikal, pergerakan JCI masih berada di fase downtrendnya dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda pembalikan arah yang valid," tambahnya.

Pengamat Pasar Keuangan Ibrahim Assuaibi juga menyebutkan bahwa IHSG terkoreksi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar rupiah dengan dolar Amerika Serikat (AS) merupakan bentuk komplikasi. Ia mengatakan bahwa komplikasi dari segi eksternal berkaitan dengan konflik Timur Tengah yang berdampak terhadap naiknya harga minyak mentah.

"Sehingga berdampak pada harga-harga yang terus mengalami kenaikan, membuat inflasi tetap tinggi. Inflasi tinggi kemungkinan besar bank sentral global akan menaikkan suku bunga, mempertahankan suku bunga tinggi dan menaikkan suku bunga," kata Ibrahim.

Ibrahim juga menyebutkan bahwa komplikasi dari segi internal berkaitan dengan data terbaru inflasi dan neraca perdagangan Indonesia. Ia mengatakan bahwa inflasi yang dilihat oleh masyarakat adalah salah satu penyebab koreksi IHSG. "Untuk kita lihat bahwa untuk inflasi sendiri ini sentimennya itu mengalami saya anggap ini adalah inflasi ini adalah terburuk ya," ungkapnya.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami inflasi 3,08 persen pada Mei 2026 secara year-on-year (yoy), sedangkan secara bulanan inflasi tercatat 0,28 persen. Kemudian, BPS juga mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$89,1 juta pada April 2026.

Namun, realisasi ini jauh lebih rendah dibandingkan Maret yang surplus US$3,32 miliar. Ibrahim menggarisbawahi bahwa tekanan pada daya beli masyarakat dan ketahanan eksternal ini yang membuat neraca perdagangan terjadi surplus, meski cenderung menyempit.

Menurutnya, hal ini membuat investor asing kembali meninggalkan saham-saham di Indonesia. "Sehingga terjadilah arus modal asing yang keluar dan membuat indeks harga saham mengalami koreksi," kata Ibrahim.