Potensi Panas Bumi 24.000 MW RI Tertahan Tarif dan Risiko Investasi
ekonomi

Potensi Panas Bumi 24.000 MW RI Tertahan Tarif dan Risiko Investasi

Tribun News27 Mei 2026👁 1 views🤖 AI Rewritten

Indonesia hanya memanfaatkan 12 persen dari total potensi panas bumi 24.000 MW. Target penambahan 5.200 MW hingga 2034 masih terhambat tarif listrik dan risiko investasi yang tinggi.

Indonesia menyimpan potensi energi panas bumi terbesar di dunia dengan total sekitar 24.000 MW, namun baru 2.740 MW atau 12 persen yang dimanfaatkan menjadi listrik hingga kini. Pemerintah menargetkan penambahan kapasitas 5.200 MW dalam RUPTL 2025–2034 untuk mendukung target net zero emission 2060. Pengembangan masih terkendala tarif listrik yang diatur pemerintah serta rendahnya tingkat pengembalian investasi. Kondisi ini membuat peluang besar energi hijau tersebut belum tergarap optimal.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Panas Bumi Indonesia Riza Pasikki menyatakan masih ada 88 persen potensi yang belum dimanfaatkan sehingga peluang pengembangannya sangat terbuka. Ia menekankan panas bumi sebagai sumber energi baru terbarukan yang paling stabil dan berkelanjutan karena sistem siklikal fluida yang diinjeksikan kembali ke reservoir. Emisi karbon pembangkit panas bumi juga sangat rendah hanya sekitar 0,1 persen dibandingkan pembangkit batu bara dengan kapasitas sama. Wilayah potensi terbesar berada di sepanjang jalur Bukit Barisan di Sumatera.

Pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia dimulai sejak 1983 melalui pembangkit pertama di Kamojang, Garut. Target penambahan 5.200 MW dalam RUPTL 2025–2034 hampir dua kali lipat dari total kapasitas yang telah dibangun sejak merdeka. Riza menyebut pemerintah memiliki ambisi besar untuk mencapai komitmen Paris Agreement dan net zero emission 2060. Namun industri ini dikenal padat modal dengan teknologi tinggi serta risiko eksplorasi yang besar.

Harga jual listrik panas bumi kepada PLN masih diatur melalui Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022. Akibatnya internal rate of return proyek dinilai belum menarik bagi investor. Tantangan utama terletak pada sisi keekonomian proyek yang membutuhkan insentif lebih baik. Meski demikian energi panas bumi tetap menjadi pilihan listrik hijau yang stabil dan rendah emisi untuk masa depan.