Warga Gaza Rayakan Idul Adha Tanpa Kurban di Tengah Krisis Perang
Warga Jalur Gaza merayakan Idul Adha tahun ketiga tanpa tradisi kurban karena perang sejak 2022 dan pembatasan pasca gencatan senjata Oktober 2025. Harga hewan kurban melonjak dari 500 dolar AS menjadi 6.000-7.000 dolar AS sehingga banyak keluarga hanya bisa berdoa dan mengenang.
Warga Jalur Gaza merayakan Idul Adha tanpa tradisi kurban untuk tahun ketiga berturut-turut akibat perang berkepanjangan sejak 2022. Perayaan ini berlangsung di tengah krisis kemanusiaan yang membuat hewan ternak langka dan harga melonjak tajam. Gencatan senjata antara Hamas dan Israel yang tercapai sejak Oktober 2025 belum membuka akses pasokan barang termasuk ternak. Banyak keluarga kehilangan pekerjaan dan rumah sehingga tidak mampu membeli hewan kurban.
Ahmed Nashwan, warga Gaza, mengatakan Idul Adha tahun ini lebih banyak diisi doa dan kenangan karena kesulitan mendapatkan makanan. Sebelum perang ia biasa pergi ke pasar ternak bersama saudara dan anak-anak untuk memilih domba atau sapi. Kini suasana itu berubah total dan keluarga tidak lagi bisa menjalankan tradisi membagikan daging kepada kerabat miskin. Ia menyebut dulu Idul Adha adalah momen paling membahagiakan bagi keluarga mereka.
Maher al-Tabbaa, Direktur Kamar Dagang Gaza, menyatakan harga hewan kurban kini mencapai 6.000 hingga 7.000 dolar AS dari sebelumnya sekitar 500 dolar AS. Harga tersebut jauh di luar kemampuan mayoritas warga Gaza yang kehilangan penghasilan akibat perang. Mohammed al-Hissi, ayah empat anak asal Kota Gaza, mengaku anak-anaknya tidak lagi bisa bangun pagi memakai pakaian baru dan membagikan daging kurban. Kondisi ini membuat kebahagiaan Idul Adha hilang sepenuhnya.
Mohammed Shallah di wilayah selatan Gaza mengenang tradisi Idul Adha bersama ayahnya yang tewas akibat serangan udara Israel di Khan Younis. Keluarganya dulu selalu membeli hewan kurban bersama sebelum hari raya tiba. Kini ia tidak lagi mampu melanjutkan kebiasaan tersebut karena dampak perang yang berkepanjangan. Perayaan Idul Adha di Gaza pun lebih dipenuhi duka dan kenangan dibanding kegembiraan.