Fakta Kolesterol Daging Kambing Kurban Idul Adha 2026
Daging kambing tetap mengandung kolesterol dan lemak jenuh meski kadarnya lebih rendah dibanding beberapa jenis daging lain. Cara memasak dan jumlah konsumsi menjadi faktor utama yang menentukan dampaknya terhadap kesehatan.
Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026, membuat banyak masyarakat menerima daging kurban, termasuk daging kambing. Momen ini juga sering disertai kekhawatiran soal kolesterol dan tekanan darah setelah mengonsumsi olahan kambing seperti sate, gulai, atau tongseng. Banyak orang percaya bahwa daging kambing menjadi penyebab utama kolesterol tinggi, namun benarkah demikian? Daging kambing sebenarnya tetap aman dikonsumsi selama tidak berlebihan dan diolah dengan cara yang tepat.
Daging kambing diketahui mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan tubuh, seperti protein, zat besi, zinc, kalium, selenium, vitamin B, vitamin K, hingga vitamin E. Meski begitu, daging kambing juga mengandung lemak jenuh yang dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat atau LDL jika dikonsumsi terlalu banyak. Kolesterol LDL dikenal sebagai kolesterol jahat karena dapat menyebabkan penumpukan plak pada pembuluh darah. Kondisi ini berisiko memicu penyakit jantung, stroke, dan gangguan kesehatan lainnya.
Hampir semua makanan yang berasal dari hewan mengandung kolesterol. Dalam penjelasan Puskesmas Eyat Mayang Lombok Barat, kandungan kolesterol daging kambing ternyata tidak setinggi yang banyak dibayangkan. Berikut kandungan kolesterol per 100 gram daging: daging kambing 75 mg, daging domba 110 mg, daging sapi sirloin sekitar 90 mg, daging sapi tanpa lemak 65 mg, dada ayam tanpa kulit 85 mg, dan paha ayam 135 mg. Artinya, kandungan kolesterol daging kambing lebih rendah dibandingkan daging domba, beberapa bagian sapi, bahkan paha ayam.
Pakar ilmu keperawatan Universitas Airlangga, Dr Abu Bakar, juga menjelaskan bahwa yang perlu diperhatikan bukan hanya jenis makanannya, tetapi kandungan zat dan cara pengolahannya. Menurutnya, olahan daging kambing bisa tetap aman dikonsumsi apabila dimasak dengan benar dan tidak berlebihan. Ia mencontohkan, penggunaan kecap tinggi natrium pada sate kambing justru bisa menjadi faktor pemicu tekanan darah tinggi, bukan semata-mata daging kambingnya.